Hanif Akhtar

Menulis itu Baik

Ada banyak alasan mengapa orang menulis di dunia maya. Ada orang yang menulis untuk mengabadikan kisah hidupnya, seperti membuat catatan perjalanan atau menuliskan peritiwa penting dalam hidupnya. Seseorang ingin menulis sebuah cerita dimana dirinya menjadi pemain utamanya. Dan pada akhirnya di masa yang akan datang cerita inilah yang akan menjadi sebuah sejarah.

Ada juga yang menulis untuk menuangkan gagasan dan unek-uneknya. Menulis memang menyenangkan, bisa membuang semua sampah di otak dan hati. Terlebih lagi kalau ada orang yang membacanya dan mendapat simpatinya. Seperti memberi kekuatan untuk semangat lagi. Ada juga yang menulis untuk mendapatkan kepuasan pribadi, seperti mendapat imbalan atau mendapat pujian atas informasi yang disampaikan. Dan masih banyak lagi alasan mengapa orang menulis.

Pada dasarnya orang menulis itu menunjukkan eksistensinya, ingin menunjukkan pada dunia “inilah aku”. Makanya saya pikir tulisan yang tidak terpublish itu sia-sia saja. Soe Hok Gie juga bisa dikenal karena tulisannya dipublish kan. Kata orang, kamu bisa tahu tingkat kecerdasan seseorang dari tulisannya. Dan kata seseorang juga, kamu bisa mengenal orang lain dari tulisannya. Untuk itulah saya menulis, untuk memperkenalkan diri saya, dan saya bersyukur sudah menulis.

Sebenarnya semakin kesini alasan saya menulis semakin tidak jelas saja. Dulu tulisan saya hanya diketahui satu orang, dan memang hanya pada orang itu saya ingin menunjukkan diri saya. Sekarang tulisan saya sudah menjadi konsumsi orang banyak. Lalu apa lagi yang bisa saya tunjukkan? Saya memang tidak pernah membuka diri saya sepenuhnya kepada banyak orang. Dan kalau dipikir, memang tidak banyak orang yang mau dan saya ijinkan untuk mengenal saya secara intim, tidak juga dengan tulisan saya.

Dan seringnya saya juga ikutan menjadi kepo tulisan orang ketika ingin mengetahui seperti apa orang tersebut. Dan yang saya lihat dalam tulisan itu terkadang berbeda 180 derajat dengan yang saya lihat di dunia nyata.  Entahlah, apa memang setiap orang memiliki kepribadian yang kompleks. Namun seperti itu kan yang menarik dari manusia. Dan kalau dipikir lagi, menulis kan berpikir, dan berpikir itu akan tetap menghidupkan otak kita. Mungkin sesimple itulah alasan saya sekarang menulis.

Buah kalau terlalu lama berproses di pohon juga akan busuk. Yang bagus ya yang pas dan sederhana, agar membawa kebermanfaatan

Uje

Time for Change

Lagi-lagi hasil sebuah tes psikologi membuat saya berpikir. lumayan lah, akhirnya dipakai mikir juga ini otak. Rasanya sudah lama saya istirahatkan. Kali ini datangnya dari tes EPPS, sebuah tes kepribadian. Point-point ekstrem saya adalah, need for achievement yang tinggi, need for order yang tinggi, need for affiliation yang rendah, dan endurance yang tinggi. Mari kita bahas

Need for achievement menunjukkan keinginan berprestasi, kemauan menyelesaikan tugas. Namun skor yang terlalu tinggi juga mengindikasikan orang yang ambisius. Sip. Lalu need for order menunjukkan sifat yang teratur dan sistematis. Namun skor yang terlalu tinggi menunjukkan kekakuannya dan kesulitannya mengerjakan dua tanggung jawab sekaligus. Need for affiliation yang rendah, ya sudah tahulah apa artinya.

Lalu point ekstrem yang terakhir adalah endurance yang tinggi. Ini sebenarnya juga dibarengi dengan skor need for change yang cukup rendah. Apa artinya? Artinya saya ini ulet dan selalu menyelesaikan pekerjaan sampai akhir. Namun skor yang terlalu tinggi juga bisa mengindikasikan asal betah, enggan berubah, dan tidak mau keluar dari zona nyaman.

Akhirnya saya berpikir, dua tahun yang lalu saya ini seperti apa. Oh, ternyata sama seperti saya sekarang. Tidak berubah. Kuliah, sekret, naik gunung, ujian. Rutinitas yang sepertinya membosankan. Namun rutinitas inilah yang menjadi zona nyaman saya. bahkan dulu ketika kami rajin sekali rapat, saya bisa begitu mencintai orang-orang yang ada di sekeliling saya. Lalu semester depan saya akan menjadi seperti apa. Meninggalkan sekret dan mencari rutinitas lain. Mencari ritme harian baru, tongkrongan baru, mungkin juga teman-teman baru. Keluar dari zona nyaman saya. Ah jangankan semester depan, minggu depan pun pasti saya sudah akan merasa kesulitan saat  harus meninggalkan TC Divisi Gunung. Tapi kata orang, perubahan itu harus kan ya. Dan sepertinya memang harus berubah. Atau saya masih takut? Hmm..  Akhirnya lagi-lagi Psikologi inilah yang membatasi diri kita.

image

Berputar menjadi sesuatu yang bukan kita, demi bisa menjadi diri kita lagi

perahu kertas

Radiohead - Lotus Flower

(Source: youtube.com, via wampirella)

Anti Mainstream

Dulu orang introvert itu terkesan anti mainstream banget. Ga pernah mau ikut-ikutan orang lain. Selalu punya cara pandang sendiri dan berbuat dengan caranya sendiri. Hingga muncul anggapan orang introvert itu aneh, sombong, membosankan dan lain sebagainya.

Tapi sekarang banyak orang bangga kalau disebut introvert. Dan memang, ajaran hidup yang ada selama ini selalu mengajarkan kita untuk selalu menjadi “berbeda”. Orang bangga menjadi penyendiri, tertutup, pendiam, melihat dengan cara pandang sendiri, dan berperilaku dengan caranya sendiri. Menikmati waktu sendiri dan berkutat dengan pikiran mereka. Dengan begitu mereka akan bangga karena dianggap memiliki jati diri dan dianggap “unik”. Dengan kata lain introvert itu sudah mainstream.

Wah, kalau sekarang banyak orang mengidentikkan dirinya dengan orang introvert, apakah saya masih bisa bangga menjadi orang introvert lagi? Mungkin di masa mendatang orang yang cerewet dan perilakunya spontan tanpa dipikir dulu itulah yang akan disebut sebagai orang-orang anti mainstream.

image

X & Y

Y : Emang apa bedanya?

X : Tulisanmu yang dulu lebih hidup Nif

Y : Ya, karena tulisanku yang dulu kan surat buatmu

X : Haha

Supermom

Pada suatu waktu, perbedaan antara bangga dan takut itu tipis. Orang bisa bangga karena punya pacar cantik, tapi juga takut dirinya kurang tampan untuk mengimbangi pacarnya. Orang bisa bangga kerana mempunyai mobil mewah, tapi juga takut mobilnya dicuri orang. Dan saya, saya bangga memiliki ibu yang sangat hebat, namun juga takut akan kehebatannya.

27 Februari lalu ibu saya resmi dikukuhkan menjadi guru besar UGM. Prof. Dr. Tina Afiatin, M. Si., Psi. Puluhan ucapan selamat dilontarkan oleh para tamu, dan tidak kepada ibu saja, tapi pada bapak, kedua saudara saya, dan saya. Kenapa kami juga harus diberi selamat? Bukankah itu prestasi pribadi ibu? Kemudian saya mengartikan itu sebagai ucapan selamat karena telah memiliki ibu yang hebat.

Bangga itu pasti, tapi takut juga iya. Dari kecil bapak selalu menekankan kalimat ini, “anak ki yo sak elek-elek e menyamai wong tuwane lah, syukur-syukur iso luwih dhuwur”. Oke, jelas tidak mungkin. Yang lebih tinggi dari professor apa coba? Ketika orang-orang di kampus saya mulai mengenal saya sebagai anak professor, kadang pergerakan saya tidak lagi sebebas dulu. Jadi semacam jaim gitu

Ibu saya mengajarkan saya untuk selalu rendah hati. Saya mengartikan untuk selalu menjadi low profile. Dan seperti itulah sosok ibu ketika di rumah. Sama sekali tidak terlihat kalau dia seorang professor. Sama saja seperti ibu yang lain, meskipun tidak sepenuhnya terlihat sama. ibu yang satu ini lebih sakti dari ibu yang lain, karena selalu bisa membaca pikiran saya, dan seperti bisa meramalkan masa depan saya. Selalu memanjakan saya. Bahkan saya sempat berpikir, apakah ibu ini menjadikan anak-anaknya sebagai subjek eksperimennya ya, mengasuh anak-anaknya dengan pola asuh yang berbeda.

Supermom. Ibu professor, tapi tetap low profile. Inspirasi saya. Semoga suatu saat saya bisa menjadi seperti ibu

image

 

Sekarang groupthink nya sudah tidak ada. Atau sudah tidak ada group nya ya? Atau bahkan sudah tidak ada think nya? Parah, tidak ada dinamo, tidak bernyawa

- 27

Need for Recreation

Resmi, satu bulan lebih saya tidak naik gunung. Dulu, waktu saya sedang rajin-rajinnya naik gunung, saya pikir itu hanya buang-buang waktu saja. Sabtu-Minggu akan lebih produktif kalau dipakai untuk mengerjakan tugas. Tapi sekarang, setelah saya jarang ke gunung lagi, weekend saya juga tidak berubah lebih produktif ternyata. Dan faktanya, itu jauh lebih buruk bagi perasaan saya.

Semua tindakan manusia itu dimotivasi oleh upaya pemenuhan kebutuhan. Maslow menggolongkannya dalam 5 tingkatan. McClelland menggolongkannya dalam 3 hal. Saya tidak tahu, mereka memasukkan kebutuhan rekreasi ini dalam kelompok yang mana, tapi bagi saya itu suatu kebutuhan yang sangat penting. Sama pentingnya seperti sholat. Kita tahu yang kita lakukan tidak akan menyelesaikan masalah, tapi kita merasa lebih baik ketika sudah melakukan itu. Tidak selamanya problem focus coping itu selalu lebih baik bukan, terkadang membuat perasaan kita lebih baik terlebih dahulu juga sama pentingnya. Ah, saya butuh naik gunung lagiimage

 

(Source: weheartit.com, via picsandquotes)

Ruang 2,2 x 2,2 m

Ngapain coba, seorang mahasiswa yang rumahnya hanya berjarak 15 km dari kampus pake ngekos segala. Ya, dulu sih alasannya simple, buat transit kalau pas jeda kuliah, atau tidur kalau udah kemaleman banget pulangnya, makanya cari yang murahan aja. Kamar ini kecil. Karena kamarnya kecil jadi enak, mau ngambil apa-apa jadi deket. Kalau hujan, bocoran dari kamar sebelah kadang ngrembes sampai kamarku. Seluruh koridor rumah penuh dengan burung. Jadi tiap keluar masuk rumah, pasti diteriaki sama si burung. Dan setiap mengeluarkan motor harus meniup jok dulu, karena kadang kotoran kering si burung bertaburan di atas jok. Kamar tetangga selalu dikunjungi tamu, dan sialnya sekat antar kamar kami hanya sebuah triplek. Jadi kalau mereka hiperaktif, suaranya jeduk-jeduk brisik. 

Berhubung saya mengidentikkan diri saya dengan orang introvert (dan aneh), jadi momen berada di kamar ini menjadi momen yang menyenangkan. Dan yang paling menyenangkan adalah ketika saya mulai mengkonstruksi mimpi dari kamar ini. Merancang masa depan idaman saya. browsing-browsing tentang hal yang mendukung impian saya. dan tidur dengan tersenyum karena membayangkan betapa dekatnya saya dengan sesuatu yang saya impikan tersebut. ya, mimpi tercipta dari sebuah kamar berukuran 2,2 X 2,2 m. sesuatu yang besar berawal dari sesuatu yang kecil. Saat yang paling menyenangkan adalah saat kita merancang mimpi kita, dan yang terberat adalah saat kita berusaha mewujudkannya. Namun akan manis kalau itu bisa terwujud

(Source: chickenshit, via picsandquotes)

(Source: effyeahpostsecret)