Menulis itu Baik
Ada banyak alasan mengapa orang menulis di dunia maya. Ada orang yang menulis untuk mengabadikan kisah hidupnya, seperti membuat catatan perjalanan atau menuliskan peritiwa penting dalam hidupnya. Seseorang ingin menulis sebuah cerita dimana dirinya menjadi pemain utamanya. Dan pada akhirnya di masa yang akan datang cerita inilah yang akan menjadi sebuah sejarah.
Ada juga yang menulis untuk menuangkan gagasan dan unek-uneknya. Menulis memang menyenangkan, bisa membuang semua sampah di otak dan hati. Terlebih lagi kalau ada orang yang membacanya dan mendapat simpatinya. Seperti memberi kekuatan untuk semangat lagi. Ada juga yang menulis untuk mendapatkan kepuasan pribadi, seperti mendapat imbalan atau mendapat pujian atas informasi yang disampaikan. Dan masih banyak lagi alasan mengapa orang menulis.
Pada dasarnya orang menulis itu menunjukkan eksistensinya, ingin menunjukkan pada dunia “inilah aku”. Makanya saya pikir tulisan yang tidak terpublish itu sia-sia saja. Soe Hok Gie juga bisa dikenal karena tulisannya dipublish kan. Kata orang, kamu bisa tahu tingkat kecerdasan seseorang dari tulisannya. Dan kata seseorang juga, kamu bisa mengenal orang lain dari tulisannya. Untuk itulah saya menulis, untuk memperkenalkan diri saya, dan saya bersyukur sudah menulis.
Sebenarnya semakin kesini alasan saya menulis semakin tidak jelas saja. Dulu tulisan saya hanya diketahui satu orang, dan memang hanya pada orang itu saya ingin menunjukkan diri saya. Sekarang tulisan saya sudah menjadi konsumsi orang banyak. Lalu apa lagi yang bisa saya tunjukkan? Saya memang tidak pernah membuka diri saya sepenuhnya kepada banyak orang. Dan kalau dipikir, memang tidak banyak orang yang mau dan saya ijinkan untuk mengenal saya secara intim, tidak juga dengan tulisan saya.
Dan seringnya saya juga ikutan menjadi kepo tulisan orang ketika ingin mengetahui seperti apa orang tersebut. Dan yang saya lihat dalam tulisan itu terkadang berbeda 180 derajat dengan yang saya lihat di dunia nyata. Entahlah, apa memang setiap orang memiliki kepribadian yang kompleks. Namun seperti itu kan yang menarik dari manusia. Dan kalau dipikir lagi, menulis kan berpikir, dan berpikir itu akan tetap menghidupkan otak kita. Mungkin sesimple itulah alasan saya sekarang menulis.






14


