Hanif Akhtar

Indonesia Mengajar

image

Senin, 18 Agustus 2014, email yang ditunggu datang juga. Pesan dari tim rekrutmen IM mengabarkan bahwa diantara 8001 pendaftar saya termasuk salah satu yang lolos menjadi 52 calon Pengajar Muda. Alhamdulillah, respon pertama saya adalah bersyukur sekali, tapi, hey, apa-apaan ini, apa tim IM asal pilih orang. Setahu saya Pengajar Muda itu adalah lulusan terbaik dari unversitas terbaik dengan prestasi segudang. Yang benar saja, saya bahkan mengkosongkan kolom prestasi yang pernah diraih dalam formulir aplikasi.

Dulu, saya beranggapan Pengajar Muda itu adalah manusia berhati malaikat yang rela melepas kemapanan dan peluang yang dia miliki untuk mengabdi selama satu tahun demi bangsa. Orang-orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri, yang tidak ada sesuatu apapun yang ingin dikejar selain mengabdI. Menjadi Pengajar Muda adalah menjadi pahlawan yang namanya patut dicatat dan diabadikan dalam buku-buku maupun media masa. Saya pikir akan sangat mulia jika saya bisa menjadi salah satu dari mereka.

Kemudian saya belajar juga tentang Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar. Dengan konsep “gerakan” yang ditawarkan, Indonesia Mengajar jelas tidak memiliki pretensi untuk menyelesaikan seluruh masalah pendidikan di Indonesia ini sendirian. Gerakan berarti masalah ini adalah masalah bersama dan harus dipecahkan bersama. Oleh karenanya saya pikir lembaga ini memiliki idealisme yang baik dengan tetap berada di porsi kerjanya namun tetap menularkan semangat untuk peduli pendidikan ini ke orang atau instansi lain. Idealisme itu juga tercermin dalam pendanaan gerakan ini yang berbasiskan iuran publik. Hasilnya, gerakan pendidikan sekarang sudah banyak, dan banyak juga yang mengambil konsep serupa (UI mengajar, Solo mengajar, dll).

Pengajar Muda hanya salah satu agen dari gerakan ini. Jujur, saya tidak lagi berpikir Pengajar Muda adalah manusia mulia yang berhati malaikat. Mereka kebetulan saja memiliki minat di bidang ini. Salah, jika berpikir menjadi Pengajar Muda berarti sudah selesai dengan dirinya sendiri dan tidak lagi memiliki ambisi apapun. Tapi saya tetap melihat Pengajar Muda adalah peran yang strategis untuk pengembangan pendidikan sekaligus pengembangan diri. Menjadi Pengajar Muda adalah sarana belajar yang luar biasa, sangat luas cakupannya. Itulah alasan kenapa saya akhirnya memilih IM. Saya menangkap kecerdikan pihak IM dalam rekrutmen Pengajar Muda, mereka tidak menawarkan uang ataupun jenjang karir, tetapi kesempatan belajar yang luas, pengakuan, dan penghargaan. Itulah yang paling dibutuhkan oleh anak muda.

Pantas atau tidak, saya sudah terpilih. Mundur bukan lagi pilihan sekarang, setelah saya melepas kesempatan bekerja (di tempat yang katanya diminati banyak orang). Bismillah, Saya siap, untuk belajar dan bekerja sebaik-baiknya, untuk diri saya sendiri dan untuk Indonesia. Mohon doanya semua. 

Meraih Cita-cita Itu Seperti Naik Gunung Lawu

Ada dua jalur, jalur Cemoro Sewu yang pendek namun curam, dan jalur Cemoro Kandang yang panjang namun landai dan pemandangannya lebih indah. Mau pilih mana, pilih langsung tembak target dan cepat sampai tujuan, namun jalan yang dilalui cukup berat. Atau muter-muter dulu dan lama, namun relatif lebih mudah dan banyak hal-hal indah di perjalanan. Tapi hati-hati tersesat. Pilih mana?

Membuat Itinerary Rinjani

Ternyata merencanakan perjalanan itu sama menyenangkannya dengan melakukan perjalanan itu sendiri. Dengan membuat rencana perjalanan secara tidak langsung kita sudah mengeksplore tempat yang akan jadi tujuan, meskipun hanya dalam angan-angan kita. Ibaratnya dengan membuat rencana perjalanan, separuh kaki kita sudah melangkah ke tempat tersebut. 

Kata Conner Layne, "The Art of Travel is to deviate from one’s plans". Jadi kalau eksekusinya ga sesuai dengan rencana, justru semakin kaya dong pengalaman kita. Jadi merencanakan dan menjalankan rencana merupakan dua hal yang berbeda, namun sama-sama merupakan proses belajar dan menghasilkan impresi setelahnya. Ah, pantas dulu di Palapsi setiap kegiatan harus ada Pre-During-Post, ternyata proses itu memang penting ya. Kalau mau dicocok-cocokin lagi, sebenarnya menyusun perjalanan itu seperti menyusun masa depan ya, kita bisa merencanakan mau jadi apa kita, apa saja persiapan kita, mau lewat jalan mana, tapi tetap ada energi di luar diri kita yang menentukan semuanya.

Baik, inilah hasil merenung yang menghabiskan 3 hari pengangguran saya. Tertarik?

http://www.4shared.com/office/sS0rhbRgba/Skenarion_Pendakian_Rinjani.html

Are You a Traveler or a Tourist?

Traveling adalah hobi baru saya setelah menjadi mahasiswa. Dimulai dengan melakukan perjalanan darat sendirian menuju Aceh 4 hari 5 malam, saya mulai ketagihan dengan kegiatan ini. Tulisan ini akan saya mulai dengan membuat klasifikasi wisatawan VERSI SAYA.

Pertama, adalah wisatawan rombongan. wisatawan jenis pertama ini lebih sering disebut turis. Nah ini adalah jenis wisatawan yang biasanya memakai travel agen untuk mengatur agenda berwisata mereka. Semuanya sudah dipersiapkan oleh travel agen, mulai dari perijinan, perlengkapan rombongan, transportasi, konsumsi, akomodasi, bahkan mungkin dokumentasi. Kegiatan selama perjalanan sudah diatur sedemikian rupa oleh travel agen sehingga perubahan dari rencana awal sangat diminimalisir.

Kedua, adalah wisatawan kelompok. wisatawan jenis ini lebih independen daripada turis. Kelomok ini bisa jadi adalah teman dekat atau hanya teman dadakan yang kebetulan mempunyai tujuan yang sama. Mereka menyusun dan mengatur perjalanannya sendiri. Karena perjalanan dilakukan bersama kelompok, biasanya plan disusun terlebih dahulu meskipun pelaksanaanya agak fleksibel.  

Ketiga, adalah wisatawan tunggal. Wisatawan jenis ini yang biasanya diasosiasikan dengan istilah solo traveler. Solo traveler menyusun dan melaksanakan perjalanannya sendiri. Karena hanya untuk diri sendiri, plan dibuat sangat fleksibel menyesuaikan keadaan dan suasana hati. Mereka bebas menentukan tujuan dan kegiatan apa saja yang mau dilakukan. Skill SKSD (Sok Kenal Sok Deket) sudah menjadi skill wajib yang harus dikuasai jenis traveler ini.

Tipe manakah saya? Selama ini saya mengidentikan diri saya dengan solo traveler. Sampai kemudian saya ikut tour yang dilakukan oleh JCI Chapter Jogja untuk pergi ke Jakarta menonton pertandingan Juventus. Bisakah saya menikmati perjalanan yang harus dilakukan dalam rombongan besar ini? Sebenarnya melakukan traveling rombongan seperti ini bukan yang pertama buat saya. Saat SD, SMP, dan SMA saya juga selalu melakukan wisata sekolah dengan rombongan besar, dan seingat saya saat itu sangat menyenangkan. Lalu kenapa sekarang saya khawatir.  

Ternyata pandangan saya terhadap turis memang sudah berubah negatif, maaf. Menurut saya turis hanya menganggap tempat wisata itu tak ubahnya sebagai ‘backdrop’ untuk berfoto kemudian memamerkannya di media sosial. Kalau kata Paul Theroux, “tourist don’t know where the’ve been, traveler don’t know where they’re going”. Turis kadang tidak pernah menghayati sedang dimana mereka, ada apa saja di tempat itu, dan pelajaran apa yang mereka dapat. Mereka lebih mementingkan kenangan apa yang dapat mereka ambil dan bagaimana cara mereka menyimpan kenangan itu. Hal inilah yang sering dimanfaatkan oleh fotografer dan penjual souvenir di tempat wisata.

Tapi kemudian ketika saya menjadi bagian dari turis itu, saya pun sadar bahwa memang tidak etis membandingan turis dan solo traveler. Keduanya memang berbeda. Turis memang menekankan pada proses berbagi. Menjadi turis adalah momen untuk berbagi, berbagi kebersamaan, berbagi kenangan, dan berbagi kebahagiaan. Bukankah kata Alexander Supertramp, “happiness only real when shared”, karena kita tidak bisa bahagia sendirian. Foto dan belanja memang sangat dihalalkan dalam proses ini karena itu menjadi sarana berbagi yang baik, sedangkan proses belajar melalui penemuan baru, mengahadapi hal asing, dan trial-eror akan dinomerduakan.

Sedangkan solo traveler akan menekankan pada proses belajar. Proses belajar dimulai ketika mulai mencari informasi untuk merencanakan perjalanan kita. Kita aktif bertanya bagaimana caranya mencapai kesana, ada apa saja di sana, apa yang wajib dicoba saat di sana, bagaimana nanti penginapan, makan, dll. Semua pertanyaan itu menjadikan kita aktif belajar hal baru. Begitu pula ketika sudah dalam perjalanan, kita akan aktif bertanya dengan banyak orang, berinteraksi dengan orang baru, dan bagaimana menghadapi situasi yang tidak terduga. Dan ketika kita di tempat tujuan, kita akan lebih menghayati rasa berada di tempat itu, daripada sekedar berfoto atau belanja souvenir. Perjalanan adalah proses penempaan diri. Hanya orang bodoh dan merugi yang akan menjadi orang yang sama dengan dirinya sebelum melakukan perjalanan.

Mau menjadi wisatawan tipe mana kita? Masih ada tipe kedua, kita bisa belajar dan berbagi juga disitu. Atau mau diam saja di rumah? Bebas, iya bebas, bukankah traveling juga diidentikkan dengan kebebasan. Atau kalau terdengar sangat hedon kita bisa ganti dengan istilah hijrah. Bukankah tujuannya sama-sama untuk perbaikan diri. Tapi bagaimanapun tidak ada satu jalan yang paling tepat untuk melakukan traveling, jadi mau menjadi tipe mana saja itu bebas asal bertanggung jawab.   

La Vecchia Signora

Saya mungkin adalah tipikal orang yang kelewat loyal. Kali ini adalah tentang tim sepakbola. Tahun 90an Liga Italia adalah liga terbesar di dunia dengan berbagai bintang dan prestasi yang diukir tim-tim yang berlaga di dalamnya. Mungkin kebetulan saja saat itu Juventus lah yang menempati peringkat teratas klasmen sementara dan saya langsung mengidolakan mereka. Tetapi sampai sekarang, tidak ada tim lain yang begitu menginspirasi saya selain mereka, bahkan ketika mereka harus degradasi ke Serie-B. Jakarta, tanggal 5 dan 6 Agustus 2014, saya akhirnya melihat mereka secara langsung.

Saya berangkat bersama rombongan JCI chapter Jogja. Ah, pergi bersama rombongan memang bukan tipikal saya yang terbiasa melakukan solo traveling. Tapi karena alasan efisiensi, akhirnya saya mengijinkan diri saya diatur oleh travel agen. Tidak rugi ternyata, saya justru belajar banyak hal dalam rombongan ini. Rombongan ini diisi oleh suporter Juventus, iya suporter, bukan hanya fans.

Kami memilih rute jalur selatan untuk menghidari Pantura yang macet karena sedang arus balik lebaran. Kita sampai di Stadion GBK siang hari, dan malamnya kita langsung melihat open training tim Juventus. Luar biasa, sebelum dan sepanjang latihan Juventini dari seluruh Indonesia nyaring menyanyikan chant-chant Juventus, dalam bahasa Italia. Dan lagu yang paling saya hapal adalah lagu untuk Arturo Vidal, iya kami meminta agar ‘King Artur’ tidak jadi pindah ke Manchester United. Sesi latihan ini juga dikunjung oleh Puteri Indonesia, Nadine Alexandra, yang membuat suporter terpecah untuk minta foto bareng.

Suasana pertandingan sesungguhnya di hari berikutnya tidak kalah mengaggumkan, atmosfer di juventus stadium dapat dirasakan disini. Inilah bedanya suporter dan fans, suporter ada untuk mendukung tim kesayangan dengan segala cara. Kalau menang mereka akan bangga, dan kalau kalah mereka akan kecewa. Sedangkan fans akan mencintai apapun yang ada dalam tim. Kalau menang mereka akan senang, kalau kalah mereka akan sedih. Skor akhir adalah 8-1 untuk kemenangan Juventus dan seisi stadion terpuaskan.

Malam setelah pertandingan rombongan langsung kembali ke Jogja. Tapi malam itu saya memisahkan diri dari rombongan, masih ada dua destinasi lain yang harus saya tuju, Karawang untuk finalisasi kontrak dengan suatu perusahaan, dan Semarang untuk Medical Check Up Indonesia Mengajar. Jadi mulai malam itu saya resmi menjadi solo traveler kembali dan menghabiskan sisa malam itu menginap di masjid stadion.

Setiap orang punya sosok pahlawan masing-masing, dan bagi saya mereka (Juventus) adalah pahlawan. Sosok pahlawan tidak harus menyelamatkan nyawa atau menolong secara langsung, tetapi menjadi sumber inspirasi pun dapat disebut pahlawan. Mereka pernah terpuruk ketika harus terdegradasi ke serie-B, tetapi sekarang mereka kembali dengan lebih baik lagi. We live our life in color, but our dreams are made in ‘black and white’. Fino alla fine, forza Juventus! Ah saya pingin jadi pemain sepak bola lagi. 

image

Momen Palestina

Beberapa waktu terakhir ini  berita tentang konflik Palestina sering kita dengar. Namun seolah menolak mainstream media masa, munculah artikel bernada kritikan terhadap perhatian besar warga Indonesia terhadap konflik di Palestina dengan mengatasnamakan rasa cinta tanah air. Alsananya adalah, masih banyak wilayah di Indonesia yang perlu diperhatikan, seperti Papua, dll, namun warga Indonesia lebih fokus untuk membantu Negara lain dibanding wilayahnya sendiri. Lalu isu yang berkembang mulai menjurus ke sara yang katanya, seandainya Papua mayoritas penduduknya muslim pasti perhatian kepada mereka akan lebih besar.

Memang benar, sebaiknya kita melihat dari dua sisi yang berbeda. Tapi apa iya respon anti mainstream ini tepat. Saya sendiri tidak setuju jika dikatakan perhatian untuk wilayah Indonesia, seperti Papua, dll, itu sangat minim. KKN, Pengajar Muda, dan berbagai kegiatan volunteer lain ke daerah tersebut sudah sangat banyak dan rutin dilakukan. Kalau kenyataannya keadaannya belum banyak berubah, itu bukan berarti perhatian kita kurang. Mungkin media memang sudah bosan memberitakannya.

Adalah hak setiap orang untuk bersimpati kepada orang lain dan menunjukan simpatinya. Mengapa kita memberi hadiah ketika sahabat kita ulang tahun, mengapa kita saling bermaaf-maafan saat lebaran, mengapa kita mengunjungi saat teman kita sakit, mengapa kita meniup terompet saat tahun baru. Saya pikir semua orang butuh momen. Kita bisa saja melakukan hal itu tiap hari, tapi itu justru membuatnya kurang bermakna. Kita perlu satu titik sebagai milestone kita. Kita juga perlu momen sebagai kaca spion untuk melihat ke belakang dengan pandangan yang lebih luas. Bukankah cara kerja memory kita juga seperti itu. Untuk itu suatu momen itu penting. Dan saya pikir sebuah tragedi atau bencana adalah satu momen untuk kita menunjukkan simpati kita sekaligus melihat lagi ke belakang apa yang sudah terjadi.

Masalahnya media hanya meliput suatu momen yang unik, yang tidak terjadi setiap hari. Ketika ada lumpur muncul dari bawah tanah dan menenggelamkan desa, media akan menyebarkannya dan membuat simpati masyarakat. Namun ketika luapan lumpur itu muncul tiap hari, tidak mungkin media akan meliputnya terus-menerus. Karenanya tidak salah kalau kita menunjukkan perhatian besar kepada Palestina, karena inilah momennya, saat bom Israel mendarat di Gaza.

Ya, memang seperti itulah hukum alamnya. Satu tragedi kecil yang hanya terjadi sekali akan lebih dilihat dibanding serangkaian tragedi besar yang terjadi setiap hari. Dan satu perhatian kecil yang diberikan pada waktunya akan lebih diingat dibanding serangkaian perhatian besar yang diberikan sepanjang waktu. Untuk Palestina, semoga segera ada perdamaian. Dan untuk Indonesiaku, semoga kedamaian dan kesejahteraan selalu menyertai kita semua. Amin.    

Ketika Kamu Adalah Seorang Calon Suami dan Bapak

Sebagai lelaki yang memasuki masa dewasa awal, tugas utama kami adalah mempersiapkan diri menjadi suami dan bapak yang pantas untuk istri dan anak-anak. Sebagai lelaki, kita juga sering dituntut untuk matang lebih dulu agar bisa membimbing istri. Pertanyaannya adalah apa definisi pantas dan matang itu?

Bapak saya adalah seseorang yang visioner, selalu melihat masa depan dengan mempertimbangkan segala peluang yang ada dan konsekuensi yang harus dihadapi. Saya menyebut ini sebagai bijaksana. Ketika kamu menjabat sebagai kepala sekolah dan kamu memiliki istri seorang dosen, apa lagi yang kamu cari? Harmoni. Dan menjadi apa bapak saya sekarang? Wirausahawan dan Bapak Rumah Tangga yang baik.

Merasa kurang setuju dengan kalimat tanya, “buat apa sekolah tinggi-tinggi, kalau akhirnya hanya menjadi Ibu Rumah Tangga di rumah?”. Bapak saya juga sekolah sampai tinggi, beliau juga seorang pria yang konon tugasnya adalah mencari nafkah, tapi beliau lebih banyak di rumah mengerjakan pekerjaan rumah. Lalu apa sekolahnya sia-sia? Apa beliau bukanlah suami yang bertanggung jawab? Saya rasa tidak. Mungkin tanpa bapak di rumah, saya tidak akan menjadi sarjana. Mungkin tanpa  bapak di rumah, adik saya juga akan mogok sekolah seperti saya dulu. Mungkin tanpa  bapak di rumah, ibu saya tidak akan menjadi guru besar seperti sekarang ini.

Dibutuhkan kebesaran jiwa ketika kamu melepas peluang dengan apa yang kamu miliki hanya untuk keluarga. Dibutuhkan kesabaran luar biasa ketika kamu berkorban untuk tinggal di rumah menjaga anak-anak sementara seharusnya kamu bisa mencapai karir tertinggi. Dan dibutuhkan kematangan berpikir ketika kamu memutuskan bahwa kamulah yang harus tinggal karena kondisi yang paling adil dan menguntungkan adalah seperti itu. Padahal kamu adalah seorang lelaki.

Jadi apa sekolah yang tinggi itu sia-sia? Mungkin mempertanyakan itu sama saja dengan mempertanyakan,”buat apa kerja dapet uang banyak kalau akhirnya ditinggal mati juga?”. Dan saya rasa pertanyaan semacam itu hanya terlontar oleh orang yang tidak sekolah tinggi-tinggi, atau orang yang sekolah tinggi-tinggi tapi belum memaknai esensi dari pendidikan. Ah mungkin salah sistem kita kali ya, yang memposisikan dunia pendidikan sebagai pelengkap dunia industri yang mencetak manusia-manusia kapitalistik, bukannya upaya untuk memanusiakan manusia. Semoga revolusi mental Pak Jokowi nanti bisa memperbaiki ini.

Ah, saya kehilangan fokus tulisan. Saya hanya sedang berpikir untuk menjawab pertanyaan tentang definisi pantas dan matang tadi. Ternyata memang subjektif ya. Mungkin hanya calon mertua kita yang bisa menentukan definisi operasionalnya :)

Everyone wants to live on top of the mountain, but all the happiness and growth occurs while you’re climbing it.
- Andy Rooney

But if you never try you’ll never know

When you try your best, but you don’t succeed

Kembali seperti 4 tahun yang lalu, bangun tidur tanpa rencana mau melakukan apa hari ini. Lalu kembali ke tempat tidur melanjutkan membaca sebuah novel filsafat yang membuat pikiran saya semakin kacau. Percayalah, dunia pasca kelulusan studi tidak seindah yang kalian pikirkan.

When you get what you want, but not what you need

Saya resmi diwisuda menjadi sarjana psikologi tanggal 20 Mei 2014. Ada satu moment yang membuat semua wisudawan saat itu bahagia, dikelilingi oleh orang-orang tercinta. Selebihnya, sebagian besar masih memikirkan mau apa setelah ini. Mau bekerja, tapi dimana. Mau lanjut sekolah, tapi dimana. Dimana tempat yang layak untuk saya. Saya termasuk salah satu orang yang kebingungan tersebut. Tidak ada perayaan spesial di rumah saat itu, bahkan foto bersama pun tak ada. Wisuda S1 memang bukanlah sesuatu yang patut dirayakan, setidaknya oleh kami. Semua biasa saja. Tapi setidaknya satu kunci telah saya pegang.

Stuck in reverse…

Banyak yang saya sesalkan, mengapa waktu kuliah dulu saya tidak ini, itu. Sekarang semuanya sudah terlambat. Ketika kamu menjadi sarjana, idealisme mu sewaktu menjelang kelulusan sedang diuji. Apakah kamu akan tetap pada prinsip yang kamu pegang, atau menyerah dan mengikuti arus utama. Eh, tapi ada yang bilang mahasiswa yang punya idealisme itu mahasiswa yang lulusnya lama, kalau yang lulus cepet itu mahasiwa pragmatis. Apa iya? Yang jelas, saya dulu tahu kenapa saya harus lulus tepat waktu, dulu. Tapi memang sekarang mempertahankan idealisme itu tidak semudah kita membentuknya.

Could it be worse?

Bekerja adalah satu pilihan yang paling umum bagi seorang sarjana. Tapi itu bukanlah pilihan utama saya, melanjutkan belajar adalah pilihan saya. Tapi dengan modal yang sangat terbatas yang saya miliki, melanjutkan belajar dengan standar pendidikan yang saya inginkan nampaknya tidak mudah. Maka saya melunakkan diri untuk bekerja terlebih dahulu. Tapi bekerja apa? Industri? Minat saya kecil. Lagi-lagi sok idealis, fresh graduate psikologi mau kerja dimana lagi yang bisa menghasilkan uang cukup, selain di bidang industri. Mengajar secara informal dan bekerja bebas yang menghasilkan sedikit uang namun banyak ilmu memang memberi kepuasan batin bagi saya, namun itu tetap tidak mengubah status saya, pengangguran.  

Lights will guide you home

Kamu percaya ada kekuatan di luar kendalimu yang mengatur jalan hidupmu? Kalau aku tidak mempunyai kepercayaan itu, mungkin aku sudah gila sekarang. Pepatah jawa mengatakan “ngeli, tur ora keli” yang berarti kita boleh ikut arus, tapi jangan sampai terseret. Meskipun idealisme kita mendapat banyak tantangan dan lama-lama tergerus, setidaknya kita masih punya pegangan. Pegangan itu adalah idealisme kita yang tersisa dan kepercayaan kita akan kuasa Tuhan. Semoga dua hal tersisa ini akan membawa kita semua menjadi diri kita yang semestinya. Tidak pernah terlambat untuk menjadi sesuatu yang mungkin kamu sudah menjadi sesuatu itu

And I will try to fix you…

*thanks to Coldplay atas lagunya (fix you) yang telah menemani masa mahasiswa saya dan membuat saya selalu menebak-nebak artinya. Thanks juga atas quote-quote supernya

Cause you only need the light when it’s burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love her when you let her go

Passenger - Let Her Go

Kebahagiaan Itu Tidak Lagi Sederhana

Sekitar setahun yang lalu, saya menemukan sebuah novel tergeletak di lantai sekret, milik teman saya Tet, dan saya membawanya pulang buku itu.  Novel itu judulnya “The Geography of Bliss” karya Eric Weiner. Buku ini bercerita tentang pencarian kebahagiaan di beberapa belahan di bumi dengan melihat kebahagiaan dalam beberapa perspektif masyarakat dunia. Mungkin buku ini lebih tepat disebut jurnal bebas, karena saya melihat banyaknya kandungan literatur ilmiah yang dirangkai dalam narasi cerdas dengan bumbu subjektivitas penulis.

Bagitu mulai membaca cerita pertama, saya terkejut dengan nama-nama yang muncul dalam cerita itu, seperti Seligman, Veenhoven, bahkan Freud juga dia singgung. Saya pun langsung mengkoneksikan pikiran saya ke bidang ilmu yang saya pelajari, Psikologi. Berkembangnya kajian positive psychology membuat orang kini banyak membuat penelitian bertemakan kebahagiaan. Trennya sekarang berubah, dulu psikologi lebih suka mempelajari pikiran jiwa yang sakit, namun sekarang lebih suka mempelajari jiwa yang sehat.

Buku ini juga memberikan sindirannya terhadap ilmuwan kebahagiaan. Orang-orang Yunani dan Romawi Kuno telah mencoba merumuskan apa itu kebahagiaan. Kemudian muncul agama yang mencoba memberi jalan pada kebahagiaan. Namun semua itu masih pendapat, jauh dari kata ilmiah. Lalu ilmuwan mencoba memanupulasi kata kebahagiaan itu dengan menggantinya dengan istilah lain. Ya, kata kebahagiaan memang nampak tidak serius, terlalu sederhana, dan terlalu mudah dimengerti orang awam. Lalu muncul istilah subjective well-being (kesejahteraan subjektif). Sempurna, kata ini lebih susah dimengerti oleh orang awam, apalagi kata ini bisa disingkat dengan istilah aneh, SWB. Sehingga kajian tentang kebahagiaan (SWB) akan menjadi kajian yang serius sekarang.

Dalam pelaksanaannya sebuah riset yang serius memerlukan angka. Tapi bagaimana mengukur kebahagiaan itu. Apakah kita bisa menanyakan begitu saja ”seberapa bahagiakah anda?”, “apa yang membuat anda bahagia?”. Manusia adalah makhluk yang relatif. Bagaimana kalau pertanyaan semacam itu ditanyakan kepada orang jawa, apakah mengerti? Sedangkan setahu saya memang belum ada istilah dalam bahasa jawa yang setara dengan kata bahagia, apalagi sejahtera secara subjectif (subjective well-being).   

Baik, andaikan kita berasumsi semua penelitian itu adalah akurat, lalu apa yang telah diperoleh peneliti? Apakah dengan kita mengetahui determinan kebahagiaan, kita bisa menjadi bahagia. Andaikan hasil penelitian menemukan bahwa orang yang kaya lebih bahagia dari orang miskin,orang  ekstrovert lebih bahagia daripada orang introvert, orang menikah lebih bahagia dari pada orang sendiri, orang sehat lebih bahagia daripada orang sakit. Lalu apakah kita harus menjadi kaya, ekstrovert, menikah, dan sehat untuk bisa bahagia. Kalau begitu apakah orang di dunia bisa menjadi lebih bahagia sekarang? Mengapa Amerika masih kalah bahagia dibanding Indonesia, padahal mereka memiliki semua syarat untuk lebih bahagia dibanding Indnoesia?

Kebahagiaan tidak lagi sederhana, dia multitafsir dan relatif sekarang. Akhir kata, mengutip dari bagian pengantar buku ini, “pencarian kebahagiaan adalah salah satu sumber utama ketidakbahagiaan”. Tidak usah muluk-muluk mengejar sesuatu yang besar, kalau kita bisa menikmati sesuatu yang kecil tiap detik.   

Sebaik-baik Manusia Adalah yang Bermanfaat Bagi Orang Lain

Abis ini kamu mau ngapain?

Satu lagi pertanyaan yang jawabannya pasti selalu ga pasti. Memang tidak ada yang tahu setelah ini kita mau berbuat apa dan menjadi apa.

Kalau ga tahu mau ngapain, kenapa lulus cepet-cepet? Mendingan jadi mahasiswa, banyak kesempatan berkembang, masih bisa santai

Kalau ditanya seperti itu saya selalu menghindar dengan jawaban, “stres e kuliah terus”. Tapi dibalik itu saya menyadari satu kekurangan dalam diri saya, saya tidak bisa membagi fokus. Saya pikir kuliah merupakan tanggung jawab saya yang utama, bukan hanya kepada diri saya sendiri, tetapi juga kepada orang tua. Saya sadar, mungkin saya melewatkan banyak kesempatan dengan melepas status saya sebagai mahasiswa. Seharusnya saya masih bisa ikut lomba-lomba tingkat mahasiswa. Seharusnya saya masih bisa ikut ekspedisi ke tempat jauh. Seharusnya saya masih bisa mencoba bekerja atau magang. Tapi menyegerakan memenuhi janji adalah hal yang utama.

Emang modal kamu buat lulus udah cukup?

Entahlah,  saya baru satu semester berorganisasi di Lembaga Mahasiswa Fakultas ditambah tiga tahun berorganisasi di Mapala Fakultas tanpa prestasi satupun. Mungkin tidak cukup untuk menunjukkan kapasitas saya. Tapi apa ada yang bisa diperbaiki dari masa lalu itu? Apa kalau aku menambah masa studi, catatan bagusku sebagai mahasiswa bisa bertambah? Belum tentu juga kan. Kita adalah apa yang kita lakukan sekarang.

Sekarang? Kamu melakukan apa?

 Aku tidak melakukan apa-apa, kecuali mempersiapkan diri mencari sekolah baru sambil membantu semua yang bisa kubantu. Siapapun, keluarga, teman, saudara. Saya sudah terlalu egois dengan memakai waktu 3,5 tahun untuk kepentingan saya sendiri, sekarang saya ingin membaginya kepada orang lain.

Beberapa waktu yang lalu saya meminta bantuan seorang dosen untuk menyelesaikan skripsi saya. Beliau seorang ahli psikometri. Pada saat menjadi mahasiswa, beliau menjadi langganan teman-teman seangkatannya untuk membimbing soal metode, psikometri, dan statistika. Bahkan dia tidak pergi kemana-mana sebelum teman-temannya lulus kuliah. Orangnya low profile, tapi sangat pintar. Tulisannya saat ini banyak dipakai mahasiswa tingkat akhir sebagai acuan untuk mengerjakan skripsi, khusunya bagian psikometri dan statistika. Beliau mengajarkan banyak hal kepada saya. Bahkan saya diajak ikut ke pelatihan tentang psikometri yang beliau isi. Tapi anehnya, sebelum saya mengucapkan terima kasih, beliau yang berterima kasih kepada saya duluan karena sudah menemaninya.

Kemudian saya diberi kesepatan menjadi “beliau”, walau hanya sebentar. Ada seorang teman yang bertanya soal psikometri kepada saya, kebetulan topiknya mirip dengan skripsi saya. Tahu apa yang saya rasakan, rasanya saya ingin berterima kasih kepada teman saya. Iya, sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Kalau menjadi bermanfaat bagi orang lain itu seindah itu, apa lagi yang kita kejar? Hari itu saya membuktikan, saya, orang introvert, bisa merasakan bahagia juga ketika bisa membagi sesuatu untuk orang lain.

Saya ingin belajar lagi. Saya ingin membagikan ilmu yang bermafaat. Saya ingin mengajar. Dan saya ingin menjadi inspirasi seperti “beliau” yang telah menginspirasi saya 

Kematian satu orang adalah tragedi, kematian jutaan orang adalah statistik

Dalam ilmu-ilmu sosial, biasanya ada dua pendekatan yang jarang bisa akur, kualitatif dan kuantitatif. Mana yang lebih baik? Relatif, tergantung pada tujuannya. Analoginya seperti kata-kata Stalin tadi, kematian satu orang adalah tragedi, itulah kualitatif. Kematian jutaan orang adalah statistik, itulah kuantitatif. Tidak adil? Memang seperti itu kadang-kadang.

Teman saya dari Jurusan Akuntansi pernah menayakan kepada saya apakah di psikologi ada juga kuantitatif. Dalam benaknya, psikologi seharusnya memahami orang, bukan menjudge berdasarkan angka. Penelitian dengan metode kuantitatif tidak seharusnya dilakukan karena proses mental seseorang tidak akan pernah bisa diangkakan.

Satu kajian psikologi yang paling megah menurut saya adalah kajian tentang kebahagiaan. Banyak penelitian psikologi yang dilakukan untuk memprediksi kebahagiaan. Namun, memang, bahagia itu tidak sederhana. Bahagia itu multiafsir, sehingga tidak sesederhana yang terlihat. Hasil penelitian bisa saja mengatakan variabel X, Y, Z ternyata bisa berpengaruh terhadap kebahagiaan. Lalu, apakah dengan begitu rata-rata orang di dunia bisa lebih bahagia? Lagi-lagi, itu hanya angka.

Saya mengenal beberapa orang yang sangat paham dengan statistika dan psikometri namun pada akhirnya berbalik tidak mempercayai ilmu ini. Ya, ini hanya ilmu probabilitas. Sedangkan dalam ilmu sosial itu tidak ada yang mutlak benar. Tapi kenyataannya, untuk bisa tidak percaya, mereka harus benar-benar mendalami ilmu angka ini. Ah, skripsi saya benar, pengetahuan memang diperlukan sebelum kita bersikap. 

“Karena saya ga yakin dengan statitika dan psikometri, makanya saya mendalaminya, biar tahu yang sebenarnya”. Seorang ahli psikometri pernah mengatakan hal seperti ini kepada saya.  Ya, saya juga ga percaya sama angka-angka itu Pak. Tapi sejujurnya saya lebih percaya pada angka itu dibanding cerita mereka yang panjang lebar itu. Sepertinya angka itu lebih jujur. Sepertinya saya juga tertarik Pak, mempelajari angka-angka itu, tapi tetap hanya sebagai alat Pak, bukan sebagai jalan hidup. 

*tulisan random, ditulis sambil menanti DPS berkenan memberi feedback skripsi saya

errinapuspita:

Mau Pie Susu khas Bali? Ngga usah jauh-jauh. Ilma bisa bikin, top enak banget!!

errinapuspita:

Mau Pie Susu khas Bali? Ngga usah jauh-jauh. Ilma bisa bikin, top enak banget!!

I’m Just a Kid

I’m just a kid and life is a nightmare

I’m just a kid, I know that it’s not fair

Saya mahasiswa semester 7 sekarang, hampir masuk semester 8. Semakin dekat dengan kenyataan bahwa kita harus meninggalkan kuliah dan mulai bekerja. Saya pikir dunia kuliah adalah dunia yang sangat nyaman. Kita bebas mengekspresikan diri kita dan kita juga memiliki banyak teman disini. Mungkin alasan ini yang membuat orang terlalu takut melepas status mahasiswanya terlalu cepat. Tapi pada akhirnya kita harus menemui kenyataan, hidup berubah, kita tumbuh, orang baru muncul, orang lama hilang. Kita tidak bisa selamanya ada di dunia nyaman ini, orang baru juga ingin gantian merasakannya. Akhirnya kita dituntut untuk move on.

Lalu kita dihadapkan oleh sebuah pilihan, mau jadi apa kamu nanti? Pada akhirnya semua manusia harus bekerja. Pilihan itu sebenarnya sudah kita hadapi saat lulus SMA, tapi kita menunda untuk menjawab pertanyaan dan melanjutkan hidup di dunia nyaman lainnya. Saya, secara tiba-tiba kembali bercita-cita menjadi dosen. Aneh memang, cita-cita ini sudah lama saya tinggalkan sejak saya bergabung di sebuah organisasi super ajaib. Saya pikir kegiatan dan cita-cita saya saat itu tidak match, jadi saya mengubah haluan ingin bekerja seperti kebanyaan senior organisasi saya, pegawai di perusahaan. Jujur saya malu mempunyai cita-cita seperti ini, di saat yang lain sudah menerbitkan jurnal-jurnal ilmiah, saya baru mulai belajar bagaimana caranya melakukan penelitian. Saya juga masih antipati dengan dunia akademisi. Memangnya penelitian yang mereka lakukan yang memakan dana puluhan juta itu seberapa signifikan sih kontribusinya?

Mungkin diibaratkan saya seperti seorang anak kecil. Seorang anak kecil biasanya kalau punya keinginan itu kuat sekali. Kalau tidak dituruti nangis guling-guling. Tidak berpikir panjang sebab-akibatnya, asal pingin saja. Tapi satu hal yang  berbeda, anak kecil memperoleh apa yang diinginkannya dari pemberian orang lain, sedangkan saya, semua tergantung pada saya sendiri. Sedih memang, harus meninggalkan dunia nyaman, dunia kolektif, tempat bermain dan belajar, menuju dunia individualis yang penuh dengan ketidaknyamanan. Belajar hal baru, beradaptasi dengan sistem baru, dan bergaul dengan orang baru. Palapsi pernah mengajarkan saya untuk mementingkan prosesnya, saya memaknainya untuk menikmati prosesnya, meskipun itu berarti mulai dari nol lagi. Semoga masing-masing dari kita semua  tahu tujuannya dan proses untuk kesana. Semoga kita semua diberkati. Amin. NEVER GIVE UP!

Nobody cares, cause I’m alone and the world is

Having more fun than me