Hanif Akhtar

Sebaik-baik Manusia Adalah yang Bermanfaat Bagi Orang Lain

Abis ini kamu mau ngapain?

Satu lagi pertanyaan yang jawabannya pasti selalu ga pasti. Memang tidak ada yang tahu setelah ini kita mau berbuat apa dan menjadi apa.

Kalau ga tahu mau ngapain, kenapa lulus cepet-cepet? Mendingan jadi mahasiswa, banyak kesempatan berkembang, masih bisa santai

Kalau ditanya seperti itu saya selalu menghindar dengan jawaban, “stres e kuliah terus”. Tapi dibalik itu saya menyadari satu kekurangan dalam diri saya, saya tidak bisa membagi fokus. Saya pikir kuliah merupakan tanggung jawab saya yang utama, bukan hanya kepada diri saya sendiri, tetapi juga kepada orang tua. Saya sadar, mungkin saya melewatkan banyak kesempatan dengan melepas status saya sebagai mahasiswa. Seharusnya saya masih bisa ikut lomba-lomba tingkat mahasiswa. Seharusnya saya masih bisa ikut ekspedisi ke tempat jauh. Seharusnya saya masih bisa mencoba bekerja atau magang. Tapi menyegerakan memenuhi janji adalah hal yang utama.

Emang modal kamu buat lulus udah cukup?

Entahlah,  saya baru satu semester berorganisasi di Lembaga Mahasiswa Fakultas ditambah tiga tahun berorganisasi di Mapala Fakultas tanpa prestasi satupun. Mungkin tidak cukup untuk menunjukkan kapasitas saya. Tapi apa ada yang bisa diperbaiki dari masa lalu itu? Apa kalau aku menambah masa studi, catatan bagusku sebagai mahasiswa bisa bertambah? Belum tentu juga kan. Kita adalah apa yang kita lakukan sekarang.

Sekarang? Kamu melakukan apa?

 Aku tidak melakukan apa-apa, kecuali mempersiapkan diri mencari sekolah baru sambil membantu semua yang bisa kubantu. Siapapun, keluarga, teman, saudara. Saya sudah terlalu egois dengan memakai waktu 3,5 tahun untuk kepentingan saya sendiri, sekarang saya ingin membaginya kepada orang lain.

Beberapa waktu yang lalu saya meminta bantuan seorang dosen untuk menyelesaikan skripsi saya. Beliau seorang ahli psikometri. Pada saat menjadi mahasiswa, beliau menjadi langganan teman-teman seangkatannya untuk membimbing soal metode, psikometri, dan statistika. Bahkan dia tidak pergi kemana-mana sebelum teman-temannya lulus kuliah. Orangnya low profile, tapi sangat pintar. Tulisannya saat ini banyak dipakai mahasiswa tingkat akhir sebagai acuan untuk mengerjakan skripsi, khusunya bagian psikometri dan statistika. Beliau mengajarkan banyak hal kepada saya. Bahkan saya diajak ikut ke pelatihan tentang psikometri yang beliau isi. Tapi anehnya, sebelum saya mengucapkan terima kasih, beliau yang berterima kasih kepada saya duluan karena sudah menemaninya.

Kemudian saya diberi kesepatan menjadi “beliau”, walau hanya sebentar. Ada seorang teman yang bertanya soal psikometri kepada saya, kebetulan topiknya mirip dengan skripsi saya. Tahu apa yang saya rasakan, rasanya saya ingin berterima kasih kepada teman saya. Iya, sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Kalau menjadi bermanfaat bagi orang lain itu seindah itu, apa lagi yang kita kejar? Hari itu saya membuktikan, saya, orang introvert, bisa merasakan bahagia juga ketika bisa membagi sesuatu untuk orang lain.

Saya ingin belajar lagi. Saya ingin membagikan ilmu yang bermafaat. Saya ingin mengajar. Dan saya ingin menjadi inspirasi seperti “beliau” yang telah menginspirasi saya 

Kematian satu orang adalah tragedi, kematian jutaan orang adalah statistik

Dalam ilmu-ilmu sosial, biasanya ada dua pendekatan yang jarang bisa akur, kualitatif dan kuantitatif. Mana yang lebih baik? Relatif, tergantung pada tujuannya. Analoginya seperti kata-kata Stalin tadi, kematian satu orang adalah tragedi, itulah kualitatif. Kematian jutaan orang adalah statistik, itulah kuantitatif. Tidak adil? Memang seperti itu kadang-kadang.

Teman saya dari Jurusan Akuntansi pernah menayakan kepada saya apakah di psikologi ada juga kuantitatif. Dalam benaknya, psikologi seharusnya memahami orang, bukan menjudge berdasarkan angka. Penelitian dengan metode kuantitatif tidak seharusnya dilakukan karena proses mental seseorang tidak akan pernah bisa diangkakan.

Satu kajian psikologi yang paling megah menurut saya adalah kajian tentang kebahagiaan. Banyak penelitian psikologi yang dilakukan untuk memprediksi kebahagiaan. Namun, memang, bahagia itu tidak sederhana. Bahagia itu multiafsir, sehingga tidak sesederhana yang terlihat. Hasil penelitian bisa saja mengatakan variabel X, Y, Z ternyata bisa berpengaruh terhadap kebahagiaan. Lalu, apakah dengan begitu rata-rata orang di dunia bisa lebih bahagia? Lagi-lagi, itu hanya angka.

Saya mengenal beberapa orang yang sangat paham dengan statistika dan psikometri namun pada akhirnya berbalik tidak mempercayai ilmu ini. Ya, ini hanya ilmu probabilitas. Sedangkan dalam ilmu sosial itu tidak ada yang mutlak benar. Tapi kenyataannya, untuk bisa tidak percaya, mereka harus benar-benar mendalami ilmu angka ini. Ah, skripsi saya benar, pengetahuan memang diperlukan sebelum kita bersikap. 

“Karena saya ga yakin dengan statitika dan psikometri, makanya saya mendalaminya, biar tahu yang sebenarnya”. Seorang ahli psikometri pernah mengatakan hal seperti ini kepada saya.  Ya, saya juga ga percaya sama angka-angka itu Pak. Tapi sejujurnya saya lebih percaya pada angka itu dibanding cerita mereka yang panjang lebar itu. Sepertinya angka itu lebih jujur. Sepertinya saya juga tertarik Pak, mempelajari angka-angka itu, tapi tetap hanya sebagai alat Pak, bukan sebagai jalan hidup. 

*tulisan random, ditulis sambil menanti DPS berkenan memberi feedback skripsi saya

errinapuspita:

Mau Pie Susu khas Bali? Ngga usah jauh-jauh. Ilma bisa bikin, top enak banget!!

errinapuspita:

Mau Pie Susu khas Bali? Ngga usah jauh-jauh. Ilma bisa bikin, top enak banget!!

I’m Just a Kid

I’m just a kid and life is a nightmare

I’m just a kid, I know that it’s not fair

Saya mahasiswa semester 7 sekarang, hampir masuk semester 8. Semakin dekat dengan kenyataan bahwa kita harus meninggalkan kuliah dan mulai bekerja. Saya pikir dunia kuliah adalah dunia yang sangat nyaman. Kita bebas mengekspresikan diri kita dan kita juga memiliki banyak teman disini. Mungkin alasan ini yang membuat orang terlalu takut melepas status mahasiswanya terlalu cepat. Tapi pada akhirnya kita harus menemui kenyataan, hidup berubah, kita tumbuh, orang baru muncul, orang lama hilang. Kita tidak bisa selamanya ada di dunia nyaman ini, orang baru juga ingin gantian merasakannya. Akhirnya kita dituntut untuk move on.

Lalu kita dihadapkan oleh sebuah pilihan, mau jadi apa kamu nanti? Pada akhirnya semua manusia harus bekerja. Pilihan itu sebenarnya sudah kita hadapi saat lulus SMA, tapi kita menunda untuk menjawab pertanyaan dan melanjutkan hidup di dunia nyaman lainnya. Saya, secara tiba-tiba kembali bercita-cita menjadi dosen. Aneh memang, cita-cita ini sudah lama saya tinggalkan sejak saya bergabung di sebuah organisasi super ajaib. Saya pikir kegiatan dan cita-cita saya saat itu tidak match, jadi saya mengubah haluan ingin bekerja seperti kebanyaan senior organisasi saya, pegawai di perusahaan. Jujur saya malu mempunyai cita-cita seperti ini, di saat yang lain sudah menerbitkan jurnal-jurnal ilmiah, saya baru mulai belajar bagaimana caranya melakukan penelitian. Saya juga masih antipati dengan dunia akademisi. Memangnya penelitian yang mereka lakukan yang memakan dana puluhan juta itu seberapa signifikan sih kontribusinya?

Mungkin diibaratkan saya seperti seorang anak kecil. Seorang anak kecil biasanya kalau punya keinginan itu kuat sekali. Kalau tidak dituruti nangis guling-guling. Tidak berpikir panjang sebab-akibatnya, asal pingin saja. Tapi satu hal yang  berbeda, anak kecil memperoleh apa yang diinginkannya dari pemberian orang lain, sedangkan saya, semua tergantung pada saya sendiri. Sedih memang, harus meninggalkan dunia nyaman, dunia kolektif, tempat bermain dan belajar, menuju dunia individualis yang penuh dengan ketidaknyamanan. Belajar hal baru, beradaptasi dengan sistem baru, dan bergaul dengan orang baru. Palapsi pernah mengajarkan saya untuk mementingkan prosesnya, saya memaknainya untuk menikmati prosesnya, meskipun itu berarti mulai dari nol lagi. Semoga masing-masing dari kita semua  tahu tujuannya dan proses untuk kesana. Semoga kita semua diberkati. Amin. NEVER GIVE UP!

Nobody cares, cause I’m alone and the world is

Having more fun than me

Ketika pohon terakhir telah ditebang
Ketika sungai terakhir telah dikuras
Ketika ikan terakhir talah ditangkap
Baru manusia akan sadar bahwa mereka tidak akan bisa makan uang

Green Peace

waktu dan pengorbanan

waktu dan pengorbanan

(Source: quotediary.me, via latuphi)

adityajatmika:

Merbabu 3.145 dpl

Juni 2013

Merbabu: pendakian pertama dan terakhir bersama Palapsi

Seseorang tidak perlu keluar dari jalan hidupnya sendiri untuk mencari partner dijalan lain. Justru jalan itulah yang akan mempertemukannya. Maka, tetap genggalah impianmu, berjalanlah terus ke arahnya. Maka bukalah mata hati, kamu akan mendapati orang-orang yang memiliki impian sama denganmu, sedang berjalan. Dan akan bertemu pada satu titik, sehingga kalian akan berjalan bersama untuk satu impian yang sama.

Kurniawan Gunadi, 2013

"feel freedom in the air"
Birds in Pulau Pasir, Kei Kecil, South East Maluku 
Taken by: Hanif Akhtar

"feel freedom in the air"

Birds in Pulau Pasir, Kei Kecil, South East Maluku 

Taken by: Hanif Akhtar

"beauty in the mirror"
Dawn at Ranu Kumbolo , Mt. Semeru, East Java
Taken by: Gerry Rizky

"beauty in the mirror"

Dawn at Ranu Kumbolo , Mt. Semeru, East Java

Taken by: Gerry Rizky

"feel free"
Beautiful morning at Lembah Kijang, Mt. Arjuno, East Java
Taken by: Gerry Rizky

"feel free"

Beautiful morning at Lembah Kijang, Mt. Arjuno, East Java

Taken by: Gerry Rizky

KEI

Aku bosan melihat pantai terus di sini, tapi aku selalu tertarik dengan cerita kita yang selalu berbeda setiap kita ke pantai, bahkan di pantai yang sama sekalipun

Aku kecewa karena tidak ada gunung di sini, tapi mendaki bukit-bukit saja tidak pernah semenyenangkan di sini

Aku benci teriknya matahari di tanah Maluku ini, tapi angin kencang yang berhembus bagaikan dinginnya kabut yang turun ke lembah, meskipun akhirnya gosong juga

Aku benci berada di lingkungan yang sama sekali baru, tapi sambutan orang di sini membuat seolah-olah inilah rumahku

Aku muak harus memakai topeng setiap hari, tapi nyatanya aku menikmati diriku diperlakukan sebagai aku yang bertopeng

Aku malas menjadi pemimpin orang-orang yang jauh lebih hebat dari aku, tapi toh mereka sudah dewasa, tetap bekerja dengan baik untuk tim

Aku masih tidak habis pikir dengan cara berpikir orang di sini, kepercayaan mereka, kebiasaan mereka, tapi inilah keindahan bukan, betapa beragamnya Indonesia ini

Aku benci melihat laki-laki dewasa menangis, tapi aku juga ikut berkaca-kaca ketika semua warga Evu menangisi kepulangan kami

KEI, nama yang singkat tapi keren (Raisa, 2013). KEI, ibarat sebuah rumah, tempat ini hanyalah sebuah lubang kunci yang kecil, dimana kita bisa mengintip kehidupan di Indonesia yang luas (Laksono, 2013)

Terima kasih atas 2 bulan yang menyenangkan, menyedihkan, membanggakan, mengharukan, dan campuran perasaan lainnya. Semoga suatu saat nanti aku bisa kembali kesana.

image

Selamat Ulang Tahun Palapsi, Selamat Tumbuh Untuk Kita Semua

 28 Juni 2013, Genap 38 tahun sudah usia Palapsi. Pecinta Alam Psikologi dan/atau Pecinta Alam Psikologi. Sebuah wadah yang mempertemukan orang-orang yang mempunyai mimpi. Wadah untuk orang-orang belajar melalui proses mewujudkan mimpi. Wadah berkumpulnya orang-orang hebat.

Flashback sebentar tentang kehadiran saya di organisasi yang sarat nilai dan budaya ini. tahun 2010, saya masuk Fakultas Psikologi UGM, tak lama kemudian seseorang mengajak saya ikut salah satu acara Palapsi. Bukan nama besar Palapsi yang membuat saya tertarik saat itu, tapi kerana orang-orangnya yang menyenangkan dan kegiatannya yang “membebaskan”. Meskipun tidak lulus diklat pada tahun itu karena saya yang masih mendua dengan organisasi lain, tapi saya merasa lebih “ada” di palapsi. Akhirnya saya mengikuti semua kegiatan yang ada di sana, termasuk Training Center Follow Up Diklat. Saya memilih divisi gunung, karena memang tujuan awal saya bergabung adalah untuk mendaki gunung. Selama 3 bulan terus-menerus kami berlatih dan berpetualang.

Sampai akhirnya pada kepengurusan selanjutnya saya diangkat menjadi Kepala Divisi Gunung. Saya tidak tahu apa-apa soal Palapsi dan tim gunung saat itu. Akhirnya saya diperkenalkan dengan yang namanya senior dan transfer learning. Bertanya dan terus bertanya adalah rutinitas saya saat itu. Tapi sayangnya terkadang jawaban yang saya dapat dari satu senior dengan senior yang lain itu berbeda. Sampai akhirnya saya simpukan sendiri, palapsi memiliki visi yang sama dari dulu sampai sekarang; berprestasi, bermanfaat, dan berkualitas. Tapi indikator dari ketiga poin ini kita sendirilah yang menentukan. Penguasa palapsi adalah pengurus saat itu, makanya yang paling berhak menentukkan mau dibawa kemana palapsi ya pengurus saat itu. Pandangan setiap senior pasti berbeda, tapi produk dari organisasi ini sama, yaitu Ekspedisi dengan proses yang bernama Never Give Up!. Tinggal kita mendefinisikan Ekspedisi yang bagaimana dan Never Give Up yang sejauh mana. Sayangnya mungkin kita belum menemui definisi yang sama hingga akhirnya rencana ekspedisi yang kita canangkan di awal kepengurusan tidak berjalan baik. Banyak yang saya sesalkan selama satu kepengurusan menjadi kadiv gunung saat itu. Ekspedisi tidak berjalan baik, dan regenerasi tim gunung juga tanggung. Namun sekali lagi, kita disini bukan belajar dari hasil, tetapi dari proses.

Pada kepengurusan selanjutnya saya diangkat menjadi Kepala Bidang Pemberdayaan. Entahlah, sejak awal kepengurusan ini terasa ganjil karena tidak ada arah yang jelas. Beberapa memutuskan “keluar” dari kepengurusan karena merasa tidak mendapatkan manfaat dari kegiatan disini. Dan sebagai kabid perberdayaan jelas saya merasa gagal total. Dan alasan ini juga yang membuat saya menolak menjadi ketua ketika dicalonkan oleh formatur, disamping banyak alasan lainnya. Tapi mungkin saya sedikit terhibur dengan banyaknya anggota baru kami, dan performa mereka sangat memuaskan. Roda organisasi terus berlanjut. Dan pada kepengurusan inilah saya serasa baru menjadi kadiv gunung. Menjadi orang yang paling tua yang bermain di tim gunung rasanya membawa tanggung jawab yang lebih besar dibanding menjadi kadiv gunung itu sendiri. Apalagi teman-teman di tim gunung angkatan saya sudah pergi semua. Meskipun akhirnya saya tidak bisa menemani mereka sampai puncak, tetapi saya cukup senang karena akhirnya mereka menemukan sendiri diri mereka.  

Dan akhirnya, upacara sederhana peringatan ulang tahun Palapsi. Pengabdian terakhir saya sebagai pengurus Palapsi. Ucapan selamat ulang tahun dan harapan semoga ke depannya semakin baik. Ucapan selamat menjalankan tugas kepada pengurus baru dan selamat belajar dari proses kalian menjalankan tugas. Dan ucapan selamat berpetualang ke Sulawesi kepada para atlet FUD. 38 tahun sudah, orang-orang datang silih berganti, tetapi tidak akan pernah bisa pergi sepenuhnya. Selalu ada memory yang melekat. Selalu ada mimipi yang tertinggal. Dan orang-orang baru akan terus datang mewujudkan mimpi-mimpi yang ada. Orang akan berganti, situasi akan berganti, dan kita tidak akan bisa lagi memaksakan “pas jamanku mbiyen ngene kok”.

Organisasi adalah sebuah wadah untuk menyatukan, memberi arah,  dan mewujudkan mimpi orang-orang di dalamnya. Organisasi akan terus hidup ketika orang-orang di dalamnya merasakan mendapat manfaat dari organisasi. Saat ini isu yang berkembang adalah kurikulum yang dipaketkan dan masa studi yang lebih pendek, dan artinya masa bermain di palapsi juga semakin pendek. Tantangan terbesarnya adalah bagaimana membuat hubungan timbal balik yang seimbang antara yang diberikan oleh orang di dalamnya dengan yang diberikan organisasi. Saya sendiri sebagai pensiunan pengurus, 3 tahun bermain tentu masih sedikit yang saya tahu tentang palapsi. Berlebihan kalau saya mengatakan saya mendapat banyak dari palapsi, tapi saya juga bukan tidak mendapat apa-apa. Proses belajar tetap berlanjut. Saya ingin menjadi orang-orang yang 10 tahun lagi akan mengerti semua yang telah saya alami 3 tahun ini. Orang yang akan memandang objektif semua pengalamannya 10 tahun yang lalu, termasuk pengalaman menjadi orang gagal. Ya, proses belajar tidak berhenti ketika saya tidak menjadi pengurus lagi. Proses belajar, memahami, dan memaknai akan terus berlangsung.

Sekali lagi, Selamat ulang tahun Palapsi yang ke-38, semoga semakin berprestasi, bermanfaat, dan berkualitas. Dan selamat tumbuh untuk kita semua. Never Give Up!

Teruntuk Teman-teman Gunungku

Barusan dapet sms dari kadiv gunung, “Alhamdulillah tadi pagi udah muncak. sekarang udah di basecamp semua. Besok baru pulang Jogja”. Dalam hati, Alhamdulillah bisa pulang juga kalian. Tapi dalam sisi hati yang lain, iri juga melihat kalian bisa naik argopuro. Hanya sepatu dan tas gunungku yang sampai kesana.

Aku juga pernah menjadi kadiv gunung, dan tahu rasanya memiliki team yang tanggung. Mau menetapkan target tinggi tapi terhalang situasi, dan mau menetapkan target rendah tapi terhalang tuntutan. Senior-senior palapsi memang mendukung dengan cara yang berbeda-beda. Tipe pertama adalah yang mendukung dengan memberikan masukan dan bantuan, dan tipe kedua adalah yang mendukung dengan memberikan tuntutan dan makian. Tapi, yang paling menyebalkan adalah ketika kamu bertemu dengan senior tipe kedua, namun dirinya sendiri enggan memberikan contoh yang baik, dengan tindakannya saat ini, bukan tindakannya di masa lalu. Dan aku sendiri akan banyak diam karena aku sendiri tidak yakin bisa memberikan contoh yang baik

Rekan-rekanku di gunung, maaf tidak bisa menemani kalian sampai akhir. Aku pun sebenarnya ingin pergi ke Sulawesi bersama kalian. Tahukan Sulawesi itu dulu cita-citaku. Dan akhirnya kalianlah yang berangkat kesana. Kecewa juga padahal seharusnya aku masih bisa berangkat jika aku mau. Tapi ya sudahlah, regenerasi berjalan sukses kan berarti. Berarti untuk tugas kadiv yang satu ini aku tidak gagal. Haha. Dan kenapa aku tidak melanjutlkan TC. Ya untuk apa lagi, ilmuku cuma sedikit, dan itu sudah aku berikan ke kalian. Aku yakin kalian akan lebih banyak belajar dengan bermain sendiri, dengan begitu kalian akan memiliki kesempatan lebih banyak dan menemukan insight sendiri.

Hoy, kalian hebat. Team ini hebat. Kalian mau apapun, aku yakin kalian mampu. Aku bisa melihatnya dari empat operasional awal bersama kalian. Semoga aku tidak salah lihat dan semoga team ini tidak berubah. Palapsi pernah mendaki puncak tertinggi di Indonesia, Cartenz Pyramid. Palapsi juga pernah membuka jalur pendakian ke gunung Gandadewata dan Raung. Palapsi juga pernah mendaki gunung-gunung wisata seperti Gunung Agung, Rinjani,  dan Kerinci sebagai tujuan ekspedisinya. Setiap generasi punya idealis mereka sendiri-sendiri. Dan aku harap kalian juga memiliki idealis kalian sendiri. Temukan saja prestise kalian sendiri. Aku jadi ingat kata-kata seniorku dulu, “kalian mau berbuat apa saja selalu salah di mata senior, apalagi tidak berbuat apa-apa”. Ya, lebih baik salah di mata senior tapi baik buat kalian kan, daripada tidak mendapat apa-apa.

Kalian bangga mendaki ke Sulawesi? Kalian bangga mendaki satu gunung di Sulawesi yang sebenarnya hampir sama dengan mendaki gunung lawu? Atau kalian memiliki kebanggan lain? Aku dulu juga hanya ke gunung wisata Gede-Pangrango, tapi aku bangga di tengah tuntutan membiayai tim air ekspedisi, aku bisa membawa sembilan orang, yang beberapa diantaranya baru mengenal palapsi, sampai ke during. Kalau kalian bangga dengan ini, lakukanlah! Untuk Yandi, Afiq, dan Anggra, aku tahu kalian banyak mendapat contoh yang tidak baik dariku dan teman-teman generasiku. Tapi aku berharap kalian bisa menularkan semangat positif untuk adik-adik kalian. Untuk Febri, Dhika, Enop, Dyaning, kalian keren. Jangan bercerai ya kalian. Selamat buat kalian semua, tinggal selangkah lagi kan. Ayo kibarkan bendera Palapsi di Latimojong dan lengkapi seven summit Indonesia Palapsi. Never Give Up!

image

Aku Ingin

Aku ingin pergi ke barat. Melihat gunung-gunung menjulang tinggi. Menikmati tiap detik perjalanan menuju ke atas. Merasakan udara sejuk membelai tubuh. Menikmati suasana sunyi hutan sambil mendengar suara burung dan serangga

Aku ingin pergi ke timur. Melihat pantai-pantai dengan pasir putihnya. Merasakan tiupan angin kencang menerpa tubuh. Mendengar deburan ombak yang berkejaran. Menikmati berteduh dibawah teriknya matahari

Aku ingin pergi ke utara. Melihat orang-orang berjuang demi hidupnya. Mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk keluarga. Mengenal lebih banyak orang. Mengenal lebih banyak alam. Dan belajar lebih banyak

Aku ingin pergi ke selatan. Berbicara dengan bahasa yang berbeda. Melihat gedung-gedung megah dengan arsitektur yang artistik. Melihat gunung, pantai, dan orang-orang yang berbeda. menyentuh dinginnya kapas putih. Mengenal dunia lebih luas. Adaptasi dengan lingkungan alam dan sosial.

Tapi aku ingin mati di sini, kembali disini, bersamamu. Di tempat yang penuh kedamaian ini, tempat kita berdua tumbuh. Membangun tempat berteduh untuk keluarga. Menghabiskan masa tua di sini, bersama orang-orang terkasih. Membuka album petualangan masa muda sambil bercerita ke generasi muda. Memaknai apa yang telah aku lakukan dan mensyukurinya. Ya, mensyukurinya  

image